Rebranding Koperasi Era Millenial: Pelayanan, Produk, hingga Teknologi

Oleh: Henny Galla Pradana, S.H., M.M. *)

Di negeri ini, koperasi didirikan dengan tujuan yang mulia: kemerdekaan ekonomi. Mohammad Hatta, dalam buku otobiografinya: Bukittingi-Rotterdam lewat Betawi, bercerita bahwa dia dengan Samsi, kawannya yang juga ahli perkoperasian, pada pertengahan tahun 1925 pergi ke tiga Negara Skandinavia: Denmark, Swedia, dan Norwegia untuk belajar tentang praktik masing-masing koperasi pertanian, koperasi konsumsi, dan koperasi perikanan (Hatta, 2011). Menurut Hatta, ekonomi rakyat Indonesia harus bersendi pada koperasi, yakni rakyat belajar berdiri sendiri, berdasarkan self-help dan oto-aktivita (Hatta, 2011).

Hampir seabad, upaya untuk merawat eksistensi koperasi sebagai tiang perekonomian di Indonesia patut diapresiasi. Saat ini, jumlah koperasi di tanah air semakin berkembang. Dikutip dari Kontan.co.id, pada 2017 terdapat 3.892 koperasi yang telah berdiri dan disahkan akta badan hukumnya. Bahkan, ditargetkan pada 2018 ada 1.100 koperasi baru (Walfajri, 2018).

Kinerja koperasi skala nasional juga positif. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) A.A. Gede Ngurah Puspayoga menyatakan bahwa adanya reformasi koperasi dalam dua tahun terakhir, memicu kontribusi signifikan koperasi pada pertumbuhan ekonomi, yakni naik hingga dua kali lipat dari 1,71 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), menjadi 4,48 persen pada kuartal III tahun 2017 (Arieza, 2018).

Guna menggenjot kinerja koperasi, Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) melaksanakan program reformasi koperasi yang meliputi aspek rehabilitasi (mengembalikan nama baik dan kepercayaan masyarakat terhadap koperasi), reorientasi (mengubah mind-set pembinaan koperasi dari kuantitas ke kualitas), dan pengembangan (penguatan peran koperasi di sektor riil) (Koperasi, 2015).

Jika dilihat dari aspek pengembangan, Kemenkop UKM menargetkan ada 20 koperasi skala internasional (Koperasi, 2015). Target aspek pengembangan itu cukup tinggi, mengingat pasang surutnya posisi koperasi Indonesia dalam dinamika perkoperasian global.

Berdasarkan laporan tahun 2017 World Co-operative Monitor yang diadakan oleh International Co-operative Alliance dan Euricse, pada 2015, tiga peringkat tertinggi koperasi dengan tingkat turnover terbesar masih dipegang oleh koperasi di negara-negara maju. Antara lain Groupe Crédit Agricole, Perancis (USD 70,89 miliar), serta Kaiser Permanente dan State Farm dari Amerika (USD 67,44 miliar dan USD 64,82 miliar), yang masing-masing bergerak pada sektor perbankan dan finansial, serta asuransi.

Namun demikian, apabila target tinggi tersebut tidak ditanggapi dengan serius, maka evolusi zaman akan menggerus keberadaan koperasi di Indonesia. Padahal, di negara-negara maju lainnya, koperasi telah menjadi salah satu tiang perekonomian dengan skala internasional.

Sejatinya, koperasi di Indonesia masih sangat memiliki peluang untuk meraih pangsa pasar yang besar. Hal ini bergantung pada upaya koperasi untuk ganti mengejar dan jemput bola terhadap pangsa pasar yang khususnya saat ini berbeda corak, yakni para generasi millenial.

Generasi millenial, mengutip Lyons, Schweitzer, dan Ng dalam tulisannya New Generation, Great Expectations: A Field Study of the Millennial Generation, adalah generasi yang lahir pada tahun 1980-an atau sesudahnya (Pradana, 2017). Hal ini diperkuat oleh laporan Economic Co-operation and Development atau OECD tahun 2017, dimana generasi millennial merupakan segmen penduduk yang memasuki fase dewasanya setelah tahun 2000 (Pradana, 2017). Lembaga Survei Nielsen, Amerika Serikat memerinci bahwa generasi millenial salah satunya memiliki karakter mengutamakan penggunaan teknologi, pop culture, liberal/toleran, dan eksis di media sosial (Pradana, 2017).

Kementerian PPN/Bappenas pun memproyeksikan kelompok usia produktif (15-34 tahun) pada tahun 2019 bakal mencapai 67 persen dari total populasi, serta puncak bonus demografi pertama akan terjadi pada tahun 2034 (Afandi, 2017). Melihat masifnya potensi pangsa pasar pada generasi millenial, maka inovasi apa dan bagaimana strateginya, yang dinilai efektif untuk merangkul segmen pasar tersebut?

Tentang Rebranding

Salah satu upaya yang dinilai efektif untuk kembali meningkatkan pamor dari suatu brand (merek), produk, atau usaha adalah dengan strategi rebranding. Rebranding berasal dari kata Re yang berarti “kembali” dan branding yaitu penciptaan brand image secara mendasar menuju kondisi yang lebih baik (Rita, 2016).

Rebranding menurut Mike Sperling (2017) adalah proses menciptakan tampilan dan rasa baru atas produk atau perusahaan yang sudah ada. Tujuan rebranding biasanya adalah untuk meng-influens persepsi kustomer tentang sebuah produk, pelayanan, atau keseluruhan perusahaan dengan cara merevitalisasi brand atau merek, sehingga terlihat lebih modern dan relevan terhadap kebutuhan para kustomer (Sperling, 2017).

Sementara branding secara umum fokus pada menciptakan sebuah identitas suatu merek, Tomasz Kimberley (2012) menyebutkan bahwa rebranding adalah menciptakan kembali identitas tersebut. Contoh rebranding menurut Kimberley pada umumnya adalah perubahan nama, perubahan estetika merek, dan reposisi merek. Namun demikian, masih menurut Kimberley, rebranding bisa menjadi gabungan dari upaya tersebut, misalnya kombinasi penciptaan nama, term, simbol, hingga desain baru untuk membangun brand, guna diferensiasi posisi (yang baru) pada benak stakeholders atau pemangku kepentingan, maupun kompetitor.

Akan tetapi, upaya rebranding perlu dilakukan dengan berbagai strategi dan hati-hati! Keputusan rebranding menurut Raluca-Dania TODOR (2014) dalam tulisannya yang berjudul The Importance of Branding and Rebranding for Strategic Marketing, perlu didukung dengan analisis yang rinci tentang karakteristik merek. Dalam banyak kasus, keputusan rebranding terbukti justru menghasilkan ketidakstabilan bisnis atau berbanding terbalik dari apa yang telah diekspektasikan (TODOR, 2014). Meski, banyak pula brand besar yang sukses atas proses rebranding, misalnya Puma, Apple, dan Gucci (TODOR, 2014). Kunci kesuksesan strategi rebranding tersebut bukannya dimulai dengan kampanye yang menghabiskan biaya jutaan dolar, perubahan yang radikal pada nama, logo, atau elemen brand image lainnya yang malah membuat kebingungan dalam benak kostumer, melainkan mulai dari memperbaiki masalah-masalah internal (bisnis) (TODOR, 2014).

Oleh karena itu, apabila merujuk penelitian TODOR (2014), terdapat contoh perusahaan Badan Usaha Milik Negara yakni PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) yang sudah lebih dahulu dianggap sukses melakukan rebranding, bukan dari sisi brand image namun dalam hal pelayanan terhadap pelanggan. Penelitian Bernard Sarah Utama dengan judul Rebranding corporate identity dan implikasinya terhadap konsumen mengenai pelayanan PT KAI (Persero) (2012) menunjukkan pergantian logo perusahaan tidak banyak diketahui oleh pelanggan, meski upaya komunikasi rebranding logo telah dilakukan dengan menggunakan berbagai media berupa spanduk, poster, banner, tiket, surat kabar, website, personal, dan lain-lain. Sebaliknya, perubahan pelayanan sebagai upaya rebranding dirasakan oleh pelanggan PT. KAI (Persero), misalnya diberlakukannya sistem boarding, sistem RTS (Rail Ticketing System), serta memaksimalkan fasilitas-fasilitas yang ada di dalam kereta api dan di lingkungan stasiun (Utama, 2012).

Koperasi Era Millenial

Dalam hal perkoperasian, upaya rebranding untuk merangkul pangsa pasar generasi millennial tengah dilakukan salah satunya oleh Koperasi Pegawai Kementerian Sekretariat Negara. Koperasi yang pada tahun 2017 mendapatkan predikat koperasi berprestasi tingkat nasional dan sepuluh koperasi terbaik versi Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI) DKI Jakarta tersebut, tengah memasang strategi yang diproyeksi mampu menarik minat lebih tinggi generasi millennial untuk bergabung dengan koperasi.

Manajer Bidang Simpan Pinjam Koperasi Pegawai Kementerian Sekretariat Negara Andi Nugroho menerangkan upaya menggaet generasi millennial dimulai dari adanya perubahan dalam anggaran dasar koperasi. Dalam anggaran dasar yang terbaru, keanggotaan koperasi tidak lagi diwajibkan bagi pegawai Kementerian Sekretariat Negara.

Menjadi anggota koperasi bagi PNS Sekretariat Negara pun kini sebagai pilihan. Hal tersebut tentunya jadi tantangan sekaligus peluang. Tantangannya adalah koperasi perlu menerapkan standar pelayanan dan produk yang tinggi, serta bersaing untuk mendatangkan kepuasan pelanggan. Peluangnya adalah tingginya loyalitas anggota karena merasakan ”customer experience” bergabung menjadi anggota koperasi.

Andi menjabarkan beberapa strategi untuk meningkatkan “costumer experience” itu misalnya dengan membangun sistem yang menghubungkan koperasi dengan transaksi di kantin karyawan. Ditargetkan terlaksana pada 2018, teknologi yang dikerjasamakan dengan pihak perbankan, ini akan memberikan keuntungan bagi para anggota koperasi: secara tidak langsung menyisihkan dananya untuk ditabung di koperasi setiap melakukan transaksi jual beli di kantin. Nantinya transaksi di kantin dapat menggunakan kartu identitas pegawai yang juga memiliki manfaat sebagai uang elektronik. ”Keuntungan SHU (sisa hasil usaha) dirasakan pada masa pensiun mendatang,” terangnya.

Tidak hanya itu, inovasi pelayanan pada Koperasi Pegawai Kementerian Sekretariat Negara juga berupa pengembangan sistem koperasi (Simkop) berbasis online yang nantinya ditingkatkan dan disempurnakan menjadi kanal belanja online bagi para anggota koperasi. Transaksi belanja online pun akan masuk dalam SHU. Saat ini Simkop masih lebih aktif digunakan untuk prosedur simpan pinjam di koperasi.

Dari segi produk, Andi mengungkapkan, pihaknya juga telah memperkenalkan adanya simpanan sukarela yang berperan sejenis produk investasi deposito yang menghasilkan jasa atau bagi hasil. Sebagaimana tren millennial yang saat ini makin sadar melakukan investasi di usia muda, diharapkan, jenis simpanan ini akan menggenjot likuiditas koperasi. Di samping itu pihaknya juga mempunyai rencana untuk menambah produk berbasis syariah, melihat pangsa pasar millennial dan syariah ini juga cukup besar. ”Pendekatan untuk market millennial ini memang harus lebih variatif. Ke depan koperasi diharap lebih dikenal fungsi-fungsinya, tidak hanya dari pendekatan kebutuhan simpan pinjam saja,” ungkap Andi.

Akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga, Surabaya, Dr. Imron Mawardi, menjelaskan bahwa inovasi koperasi dalam hal teknologi akan meningkatkan kepercayaan anggota, karena secara manajerial akan mengurangi risiko fraud. Selain itu, juga telah banyak koperasi lokal yang beradaptasi dengan teknologi semakin maju unit bisnisnya, seperti yang dilakukan koperasi produksi susu di Lembang, Bandung, Jawa Barat. Termasuk jika merambah produk berbasis syariah, dari sisi teknologi pun tidak perlu investasi besar karena tidak ada beda dengan konvensional dari segi sistem teknologinya, hanya jenis produk dan akadnya yang membedakan.

Rebranding koperasi memang sangat diharapkan. Karena di negara seperti Belanda dan Swiss, koperasi mereka sangat maju. Banyak supermarket yang dimiliki koperasi. Ke depan bisnis UKM akan sangat potensial,” paparnya.

Terobosan

Pada karya tulis ini, penulis menyajikan hasil dari kajian singkat melalui metode studi literatur dan wawancara. Rebranding koperasi pun dinilai menjadi keniscayaan untuk menjawab tantangan tendensi perekonomian di masa depan yang didominasi market millennial. Tidak hanya dilihat dari sudut pandang perubahan nama, logo, atau simbol, rebranding koperasi, dalam hal ini lebih tepat dimaknai melalui reformasi koperasi dari segi manajerial hingga strategi marketing. Sehingga, peningkatan pelayanan, diversifikasi produk, hingga teknologi diharapkan menjadi suatu bauran terobosan rebranding tanpa menghilangkan karakteristik koperasi: sebagai sistem ekonomi modern untuk menciptakan keadilan dan pemerataan kesejahteraan.

Penggunaan teknologi dengan biaya murah juga bisa menjadi konsen bagi koperasi yang ingin melakukan efisiensi investasi namun ekspansif. Hal ini misalnya dengan memaksimalkan platform online, atau bekerja sama dengan marketplace yang telah memiliki basis viewers atau followers besar, yang berpotensi sebagai ruang marketing produk koperasi yang lebih beragam dan menjangkau masyarakat luas di Indonesia.

REFERENSI

Afandi, T. (2017, Desember 18). Retrieved Juni 21, 2018, from http://www.bappenas.go.id: https://www.bappenas.go.id/files/5015/1366/8275/Outlook_Pembangunan_Indonesia_2018_Pemanfaatan_Bonus_Demografi.pdf

Arieza, U. (2018, Januari 5). Retrieved 6 10, 2018, from http://www.okezone.com: https://economy.okezone.com/read/2018/01/05/320/1840509/sumbangan-koperasi-ke-pertumbuhan-nasional-baru-4-48

Hatta, M. (2011). Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Kimberley, T. (2012). Rebranding to redefine international brand identity – A case study to evaluate the success of Sonera’s rebranding. Finlandia: HAAGA-HELIA University of Applied Sciences.

Koperasi, T. R. (2015, Desember 21). Retrieved Juni 10, 2018, from http://www.depkop.go.id: http://www.depkop.go.id/uploads/tx_rtgfiles/program_reformasi_koperasi.pdf

Pradana, H. G. (2017, November 8). Retrieved Juni 10, 2018, from http://www.setkab.go.id: http://setkab.go.id/merangkul-cpns-generasi-millenial/

Rita. (2016, Oktober 31). Retrieved Juni 21, 2018, from http://www.sbm.binus.ac.id: https://sbm.binus.ac.id/2016/10/31/rebranding/

Sperling, M. (2017, Juli 17). Retrieved Juni 8, 2018, from http://www.enterprisectr.org: https://enterprisectr.org/what-is-rebranding/

TODOR, R.-D. (2014). The Importance of Branding and Rebranding for Strategic Marketing. Bulletin of the Transilvania University of Braşov Series V: Economic Sciences • Vol. 7 (56) No. 2, 59-64.

Utama, B. S. (2012). Retrieved Juni 22, 2018, from http://www.digilib.uns.ac.id: https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/30780/Rebranding-corporate-identity-dan-implikasinya-terhadap-konsumen-mengenai-pelayanan-PT-KAI-Persero

Walfajri, M. (2018, Januari 1). Retrieved Juni 6, 2018, from http://www.kontan.co.id: https://keuangan.kontan.co.id/news/kemenkop-targetkan-1100-koperai-baru-di-2018

*) Staf di Sekretariat Kabinet, kumpulan pemikirannya bisa dibaca di www.sideprojectofwriter.wordpress.com | (Tulisan adalah pendapat pribadi penulis, tidak mewakili kebijakan institusi tempat penulis bekerja).

Advertisements

Nicholaus Prasetya, Pemenang Sayembara Ahmad Wahib yang Terinspirasi Tragedi Reformasi

Toleransi atas ras, suku, agama, dan budaya hampir menjadi tema besar secara keseluruhan tulisan Nicholaus Prasetya. Ide besarnya tentang toleransi tanpa memandang identitas itu mendapat apresiasi. Dia datang sebagai etnis Tionghoa dan nonmuslim pertama yang memenangi sayembara yang diadakan Forum Muda Paramadina, Oktober lalu.

 HENNY GALLA PRADANA, Bandung

JAKARTA mencekam kala itu. Ketakutan yang akut menjalar pada hampir seluruh tubuh etnis Tionghoa. Negeri yang konon takzim pada segala perbedaan ini tiba-tiba menjadi ancaman bagi kalangan minoritas. Tak sedikit warga Tionghoa yang akhirnya kabur ke luar negeri untuk menghindari pertikaian berbasis ras yang mengganas, pada tempo menjelang runtuhnya Orde Baru, Mei 1998. Namun, tak sedikit pula Tionghoa yang bertahan di tengah kerusuhan.

Pada lesatan zaman yang lampau, Anne Frank, seorang gadis Jerman keturunan Yahudi, bersama ayah, ibu, dan kakak perempuannya bersembunyi di Achterhuis (ruang rahasia yang ditutup rak buku), Amsterdam, Belanda. Upaya itu dilakukan agar mereka selamat dari pendudukan Nazi yang anti-Yahudi. Dalam ruang rahasia tersebut, lahirlah sebuah catatan harian yang ditulis Anne Frank, yang kemudian menjadi saksi bisu peristiwa Holocaust.

Bak kisah Anne Frank, Nicholaus Prasetya dan tiga anggota keluarganya bertahan dari anarkisme massa. Nicho kecil, yang masih berusia delapan tahun, terlampau lugu untuk mengerti keadaan saat itu. Yang dia tahu, setelah menyaksikan laporan pewarta televisi tentang pecahnya kerusuhan, sang ibu, Agustina Aniwati, 46, terus saja meneteskan kristal bening dari matanya. S

ang ayah, Soegianto Sriwulan, 57, terus memantau keadaan luar dari balik tirai jendela. Sang kakak, Theresia Tyas Leonita, yang lebih tua setahun dari Nicho, juga tak berani mengusik situasi di dalam rumah yang penuh kebimbangan itu.

Jarum jam yang terkesan melambat terasa tak ramah lagi bagi kepastian keselamatan etnis Tionghoa saat itu. Hingga akhirnya terdengar ketukan di pintu depan rumah Nicho, yang terletak di daerah Kelapa Gading, Jakarta.

Seorang tetangga sebelah rumahnya, warga pribumi, datang menawarkan tempat persembunyian. Tawaran itu disambut baik oleh keluarga Nicho. Dengan mengemas barang seadanya, Nicho dan keluarganya lalu pindah ke rumah tetangga yang letaknya persis bersebelahan dengan rumah keluarga Nicho.

Selama tiga hari tiga malam, Nicho dan keluarganya bersembunyi di rumah itu. Layar televisi tabung menyala 24 jam demi memantau pergerakan massa di luar. Nicho ingat betul, ketika itu tetangga yang berhati mulia tersebut ikut menjaga kompleks rumah secara ketat. Mereka tidak ingin ada warga Tionghoa di kawasan itu yang menjadi korban. Setelah tiga hari, situasi berangsur-angsur kondusif. Keluarga Nicho pun selamat dari amukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Pasca-kejadian itu, hari-hari berjalan seperti biasa. Namun, Nicho yang beranjak dewasa tidak akan pernah lupa peristiwa tersebut.

Dia tumbuh menjadi pribadi yang kritis. Senantiasa mempertanyakan dan mencari jawaban atas isu yang hingga saat ini tak kunjung rampung: toleransi terhadap perbedaan ras, agama, dan status sosial. “Justru, akhir-akhir ini isu perbedaan itu mencuat kembali,” ungkap Nicho saat ditemui di kampusnya, Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu lalu (14/11).

Baju putih lengan panjang Nicho ditekuk sedikit ke atas saat dia bercerita tentang jalan panjang menuju reformasi menjadi inspirasi penting dalam perjalanan hidupnya. Tapak sejarah itu pun dituangkan Nicho dalam esainya yang diikutsertakan dalam sayembara penulisan Forum Muda Paramadina 2012.

Dalam esai delapan halaman tersebut, dia menuliskan romantisme 14 tahun silam, beserta orang-orang yang berani menantang mainstream. Bagi Nicho, sosok tetangga yang baik, yang menawarkan tempat persembunyian bagi keluarganya, merupakan salah satu pihak yang berani menentang mainstream itu.

Sejumlah warga pribumi melakukan hal yang sama seperti tetangga Nicho. Mereka telah menyelamatkan warga-warga Tionghoa dari kerusuhan kala itu. Di tengah isu diskriminasi terhadap etnis tertentu, rupanya, masih banyak warga yang bersikap toleran terhadap keberagaman.

“Dalam persembunyian itu, saya dan keluarga hidup membaur dengan anak-anak si tuan rumah. Kami makan bersama. Tidur bersama mereka di kasur tipis yang digelar di lantai. Kami tidak merasakan adanya perbedaan itu. Kami merasa sama,” ungkapnya sambil menggeser letak gelang hitam di tangan kirinya.

Pengalaman Nicho yang mendalam itulah yang membuat tim juri sayembara Ahmad Wahib Award dengan tema Inspirasi untuk Toleransi terperangah. Karya esai Nicho yang berjudul Ahmad Wahib: Ketika “Yang Lain” Menjadi Subjek akhirnya dinobatkan sebagai pemenang dalam lomba dua tahunan itu.

Nicho menyelaraskan langkah yang belum usai dari Ahmad Wahib, sang pemikir. Logika eksak yang digelutinya tidak mengendurkan jiwa Nicho untuk peka terhadap realitas sehari-hari. Gagasan Ahmad Wahib tentang agama, Tuhan, dan diversitas atau keberagaman itu menjadi rangsangan bagi Nicho untuk terus menulis tentang perdamaian dan pemikiran berani untuk membela mereka yang hidup dalam minoritas.

“Selama ini kita terlalu kaku dan rigid. Tidak bisa menerima perbedaan itu. Padahal, ada identitas kita yang saling bersinggungan,” terangnya.

Bagi Nicho, dalam dunia yang semakin kompleks dan manusia dituntut menerima keberagaman, dibutuhkan suatu hukum yang toleran. “Namun, hukum kita saat ini masih berdasar intoleransi,” tegasnya.

Menurut dia, produk hukum yang berdasar intoleransi agama, misalnya, akan menjadi tempat persembunyian para oknum dan penjahat yang tak menginginkan perdamaian. Nicho mempersoalkan pelarangan pembangunan bahkan pencabutan izin rumah ibadah. “Dalam hal inilah seharusnya regulator yang mengedepankan toleransi kepada agama lain lebih objektif,” tuturnya. (*/c5/ari)

(Tulisan saya yang telah dimuat di Koran Jawa Pos, pada Minggu, 12 November 2012. selengkapnya ada di sini)

I would like to say thank to…

Profil Pak Perry Warjiyo, yang baru saja lolos fit and proper test Gubernur Bank Indonesia dari kalangan struktural, mengingatkan saya terhadap jalan yang saya tempuh untuk terus bersekolah. Jika Pak Perry- menurut berita di CNN-datang dari keluarga petani, saya datang dari keluarga pengajar. Bapak saya guru, dan punya cita cita agar anak anaknya dapat menempuh pendidikan tinggi.

Datang dari keluarga sederhana, itu sebabnya sejak SMA ditekankan bahwa saya mesti bisa sekolah murah. Sekolah murah artinya mesti siap dengan persaingan untuk meraihnya.

Salah satu persaingan itu ketika saya berusaha untuk mendapatkan beasiswa S2 Paramadina-Medco Energy jurusan Strategic Finance pada tahun 2014. Beberapa seleksi saya lalui, termasuk wawancara dan tes bahasa inggris. Tuhan kala itu sangat bermurah hati kepada saya. Mungkin, yang membuat saya lolos adalah karena dua orang penting yang telah memberikan rekomendasi kepada Paramadina terhadap profil saya.

Orang penting tersebut pertama adalah Pak Mirza Adityaswara. Beliau adalah Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Saya ingat betul ketika hendak meminta persetujuan rekomendasi beliau. Beliau tanya “kenapa kamu ingin sekolah lagi?”, saya tidak menyiapkan jawaban yang bagus sebetulnya. Yang terbesit di benak saya waktu itu hanya saya memang selalu takut jika tidak punya kesempatan sekolah lagi. Karena saya suka belajar dan mempelajari hal yang baru.

Tanpa panjang lebar, Pak Mirza mengisi kolom profiling saya dan menulis dengan meyakinkan bahwa saya layak diterima beasiswa tersebut. Dan ketika saya lulus S2 pun beliau melalui pesan pendeknya, juga tetap memberikan saya semangat agar ilmu yang telah saya peroleh digunakan untuk kebaikan dan kemanfaatan.

Orang penting kedua adalah Bu Destry Damayanti. Beliau Ekonom Bank Mandiri saat itu. Pernah juga jadi Ketua Pansel KPK. Saya sering bertemu beliau di kantor saat saya masih menjadi Staf Teknis Pak Seskab Andi Widjajanto. Yang menggembirakan adalah beliau seringkali mengingatkan saya untuk tetap menyelesaikan studi. “kuliahmu bagaimana? Tetap diselesaikan ya” ungkapnya pada saya di teras Gedung Utama Sekretariat Negara tiga tahun silam.

Bu Destry sangat mengapresiasi saat saya memohon agar beliau merekomendasikan saya pada beasiswa S2 tersebut.

Pada dasarnya, tak hanya sekadar sekolah, saya mengemban amanat yang cukup berat untuk tidak mengecewakan beliau beliau tersebut. Semoga upaya yang saya jalani seoptimal mungkin itu berguna suatu saat.

Saya tak tahu kapan akan bertemu mereka lagi, para tokoh Indonesia yang saya kagumi. Yang jelas saya sangat berterima kasih. Berkat tangan baik mereka, saya bisa menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Dan kini, karir saya di Sekretariat Kabinet, adalah waktu yang tepat mengabdi untuk Indonesia.

Rumor ghost fleet,  sebuah paradoks pendidikan

Of course, I won’t choose a President who spreads pesimism to the people.

Ini sebuah tulisan pendek hasil kontemplasi saya sembari menaiki kereta menuju kantor. Dalam perjalanan, Notifikasi berita BBC di ponsel saya berbunyi. Di layar tertulis bahwa setelah enam tahun sejak penembakan di kepalanya oleh militansi Taliban, Malala akan kembali ke Pakistan untuk bertemu perdana menterinya.

Tentu saja, kita sangat paham bagaimana upaya pergerakan Malala yang kala itu masih berusia 11 tahun, dia berjuang dalam hal kesetaraan perempuan mendapatkan pendidikan. Betapa bocah muda yang kritis ini sangat dihargai atas keberaniannya memperjuangkan pendidikan, hingga dia diganjar penghargaan Nobel pada 2014 silam.

Di belahan negara yang lain, masih dari pemberitaan di BBC, para anak muda korban perang di Ghouta Timur, Syria, masih banyak yang bertahan untuk sekolah, mendapatkan pendidikan. Meskipun, tantangan berat di depan mata: ancaman tak bisa masuk universitas, karena kampus di kota itu terkena serangan rudal sampai dengan jaringan internet yang susah didapatkan karena pengepungan.

Hanya satu yang bisa membuat para anak muda Ghouta itu bertahan: sinar cerah masa depan yang lebih baik karena pendidikan. “hidup kami harus berlanjut. Perang tak akan bisa mencegah kami. Pada akhirnya kamilah yang akan membangun kembali negeri ini dan memperbaiki kerusakan”. “kami percaya pendidikan akan menolong kami membangun masa depan” ungkap Majed, nama anak muda itu.

Lalu,

Apakah di Indonesia tak berjuang? Masih banyak generasi millenial di negara ini yang masih berjuang untuk terus belajar, sekolah, meraih pendidikan yang lebih baik. Melakoni ujian yang tidak mudah agar bisa berprestasi. Untuk apa? Tentu saja untuk bisa menyokong fundamental negara ini agar bisa kuat dan lebih kuat. Bukannya menjadi rapuh.

Pembangunan SDM pun tak luput dari mata pemerintah. Beberapa hari yang lalu, Presiden berbicara di Presidential Lecture di depan CPNS untuk menyatukan visi dan misi, menyuntikkan semangat agar birokrasi ke depan menjadi lebih baik. Presiden meminta agar para Birokrat Muda itu berinisiatif untuk kemajuan, bukan diam.

Jadi, bukannya ditiupnya rumor Indonesia akan bubar 2030 karena fiksi novel menjadi sebuah paradoks pendidikan? Pendidikan untuk negara ini tetap ada, bukannya untuk dibubarkan. Politik yang liciklah yang menginginkannya.

Dan tentu saja, saya tak akan memilih Presiden yang menyebar pesimisme pada rakyatnya.

Perempuan dan Peradaban

Tiga tahun lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla sempat melontarkan pemikirannya bahwa jam kerja perempuan perlu dikurangi dua jam. Dia menilai, mengutip Kompas.com, khawatir atas generasi muda ke depan. “agar (perempuan) lebih banyak memberikan perhatian untuk menyiapkan anak bangsa ke depan.”

Tentu saja isu yang terlontar ini menimbulkan polemik. Bagi para penganut feminisme, ide kebijakan ini tentu saja tidak betul: mereduksi konsepsi kesetaraan gender. Karena konsekuensi dari ide tersebut adalah: 1. Apabila menuntut keadilan berdasarkan beban kerja, maka ada ketimpangan beban kerja perempuan dibandingkan pekerja pria, yang bisa jadi berdampak pada income; 2. Berkurangnya pemasukan perempuan, yang artinya mengurangi kesehahteraan keluarga apabila perempuan sebagai tulang punggung keluarga, atau pula sebagai bantalan dari pendapatan suami; 3. Berkurangnya kesempatan perempuan untuk mengaktualisasikan profesionalismenya; dan sebagainya.
Sebaliknya, dari sisi perempuan yang pro (dan tanpa mempertimbangkan konsekuensi) dengan calon kebijakan tersebut, tentu saja merasa diuntungkan. Karena bisa lebih memiliki waktu di rumah bersama anak dan keluarganya.

Lantas, bagaimana dengan stance saya terkait wacana tersebut?

Saya sendiri adalah seorang istri sekaligus ibu dari satu anak. Sejak awal meniti karir, saya termasuk perempuan yang sibuk. Maklum, pekerjaan saya dulu sebagai jurnalis memang menuntut 24 jam stand-by, atau minimal 18 jam. Sementara kini sebagai seorang pegawai negeri pun, paling tidak delapan jam saya habiskan di kantor. Namun, apakah sisa waktu saya selepas bekerja murni kantoran cukup untuk menambal kebersamaan saya yang hilang dengan keluarga? Jika boleh jujur, tidak cukup. Bahkan dua hari libur pun, sabtu dan minggu, tidak cukup untuk mengobati kangen dengan anak bayi saya. Terkadang terbesit perasaan bersalah karena tidak bisa 24 jam mendampingi si kecil dan memperhatikan perkembangannya di seluruh waktu.
Namun demikian, hidup itu adalah pilihan. Perempuan yang berada di posisinya sekarang adalah cerminan dari buah pertimbangan yang matang atas keuntungan dan risiko yang telah diambil.

Saya, di posisi sekarang, seorang wanita karir dan ibu rumah tangga, tentu memiliki keuntungan dan kerugian. Tapi, saya mencoba berkontemplasi terhadap pilihan-pilihan yang saya yakini benar: pada dasarnya, perempuan itu adalah sumber dari peradaban. Apabila saya berpikir an sich untuk diri saya sendiri, mungkin saat ini saya tidak memilih untuk berkeluarga. Namun, dengan berpikir lebih panjang, kenapa saya diciptakan sebagai perempuan dan diberikan keturunan? Karena selain secara kodrati, saya coba menangkap maksud Tuhan bahwa saya dipilih untuk meneruskan peradaban bangsa saya. Pekerjaan saya selama di dunia ini dobel: untuk saya sendiri dan bangsa.
Lantas, darimana datangnya bangsa yang beradab? Ya dari orang-orang yang berbudi pekerti luhur. Di sinilah peran saya untuk bangsa dimulai: membimbing anak yang merupakan bagian dari penerus bangsa ini supaya berbudi pekerti luhur.

Membimbing anak untuk berbudi pekerti luhur pun, menurut saya bukan suatu hal yang gampang. Dibutuhkan keilmuan atau pengalaman yang fasih agar perempuan bisa membimbing anaknya dengan bijaksana, mengingat saat ini dan mungkin masa depan, semakin banyak distorsi informasi. Sehingga dalam hal ini saya sangat mendukung apabila perempuan tetap meng-upgrade dan mengaktualisasikan keilmuannya atau pengalamannya baik dari jalur formal maupun informal. Formal bisa melalui studi di setiap level dan semakin tinggi, atau bekerja di kantor. Informal bisa dari organisasi, menghadiri seminar atau diskusi, atau enterpreneurship.

Karena pemikiran itulah saya meneguhkan hati untuk membagi waktu antara keluarga dan bekerja. Saya pun tidak memasang maksud untuk menegasikan satu di antara dua itu. Justru, saya ingin sekali melibatkan keduanya untuk mendukung satu sama lain. Saya juga masih memiliki cita-cita untuk berkarir yang lebih baik serta studi yang lebih tinggi kelak, tanpa harus menyingkirkan salah satu dari dua elemen itu. Karena pada dasarnya, hidup yang sejahtera dan mampu menempatkan peran saya sebagai perempuan secara seimbang, saya yakini mampu untuk memberikan sumbangsih pada sustainabilitas peradaban bangsa ini.

Dahlan Bersalah, Azrul yang Happy

Sebagai mantan jurnalis Jawa Pos, yang bekerja setengah dekade untuk perusahaan Dahlan Iskan tersebut, tentu saja merasa kaget ketika mantan bos divonis bersalah oleh pengadilan terkait kasus dugaan korupsi di PT Panca Wira Usaha. Untuk beberapa hari saya melihat lini masa dari teman-teman jurnalis saya banjir meme atau kata-kata simpatik untuk menguatkan Pak Dahlan.

satu hal yang terbesit di benak saya justru bukan soal kasus ini, namun bagaimana Jawa Pos akan move on dari kemuraman ini, bagaimana perusahaan media terbesar di Indonesia dengan ratusan gurita bisnis medianya itu akan tetap muncul menjadi media yang penuh gairah, sekaligus perusahaan yang menjaga reputasinya di pasar.

saya jadi teringat masa-masa menjelang akhir menjadi jurnalis. kala itu tahun 2014 dimana Indonesia tengah menyemarakkan pemilihan umum. fase yang teramat panas saat banyak media secara tegas mendeklarasikan arah pemberitaannya pada sayap yang mana. di tengah riuhnya pemberitaan media yang begitu berpihak pada pasangan calon, redaksi di Jawa Pos dengan tegas mengatakan tetap berjalan di tengah.

“sentimen pemilu itu hanya sementara. setelah pemilu, perusahaan ini harus tetap hidup, berjalan, dan berkelanjutan. jangan korbankan reputasi hanya untuk kegemparan yang sesaat,” ungkap petinggi redaksi pada rapat jumat yang seringkali tuntas tengah malam itu.

lebih lama lagi saya tarik soal “keberpihakan” media, saya juga teringat percakapan saya dengan mantan kepala kompartemen ekonomi dan bisnis. saat itu saya masih menjadi wartawan anyar yang masih membutuhkan input bagaimana menulis berita yang bagus. karena sering tulisan berita saya diubah-ubah angle-nya. saya pun memberanikan diri untuk bertanya soal “sebetulnya kita menulis berita berpihak kepada siapa, Pak?”. Redaktur senior saya itu menjawab “ya tidak berpihak ke siapa-siapa. tampilkan seusai dengan fakta.”

meskipun, dalam perjalanannya menulis berita itu juga salah satu proses hermeneutik: menginterpretasikan apa yang didapat oleh panca indera, saya masih menganggap menulis berita di Jawa Pos itu yang paling minim soal keberpihakan yang memicu sentimen negatif dari pembacanya.

hal ini yang mungkin juga menginspirasi putera Pak Dahlan, Azrul Ananda, untuk terus mengajak pembacanya happy. Aza, begitu nama panggilannya yang populer, menulis sebuah kolom tersendiri setiap Rabu di Jawa Pos. Kolom itu dinamakan Happy Wednesday. Sejauh ini saya membaca tulisannya, banyak hal positif-kontemplatif yang dia sampaikan. Saya pun tergelitik dengan judul “tantangan tidak bicara”. sebelum membaca keseluruhan isi tulisan, saya mengira judul kolom itu merupakan “curhat” aza karena ayahnya yang baru divonis.

namun, saya salah. tulisan “tantangan tidak bicara” itu bukan soal Pak Dahlan. tetapi soal  dirinya yang memang diminta dokter untuk tidak bicara (oral) karena dalam proses penyembuhan penyakit di pita suaranya.

di luar hal yang mungkin tidak pernah diduga sebelumnya, saya sebagai pembaca yang menginterpretasi tulisan Happy Wednesday tersebut adalah salah satu jalan agar sebuah koran tetap hidup dengan menjaga reputasi, mengajak pembacanya agar tak larut dengan bacaan-bacaan yang justru meningkatkan pemikiran negatif.

saya coba mengutip Aza di salah satu tulisannya Overreact News: “Emangnya enak setiap hari harus mengernyitkan dahi setiap membaca berita? Emangnya enak setiap hari merasakan amarah di dada? Dan emangnya enak selalu mengajak orang lain ikut mengernyitkan dahi dan merasakan marah?”

ya. perusahaan media selalu diharapkan tetap sustain di tengah gelombang yang sedang menghempas, menabrak, menggoyang, dan mengoyak. dengan cara memisahkan keberpihakan pribadi dengan kebutuhan pembacanya, semoga Jawa Pos akan selalu berada di tengah. menyampaikan yang benar.